Sekali lagi, Indonesia dihadapkan pada kasus yang mencoreng nama
pendidikan. Kasus jual beli gelar yang dipraktekkan oleh IMGI. Cara
memperoleh gelar ini sangatlah mudah, Anda tinggal menyetor 10-25 juta,
dan Anda dapat gelar yang Anda inginkan..Tinggal pilih...apakah S1, S2,
atau S3....benar-benar edan! Sebagian orang mabuk kepayang akan nilai
gelar yang memabukkan. Dan tidak tanggung-tanggung yang pernah membeli
gelar dari IMGI ini...sekitar 5000 orang.
Ini adalah protet buram
masyarakat Indonesia yang memuja gelar melampaui batas. Dengan titel,
seakan-akan masa depan lebih mudah. Padahal, nasib ditentukan oleh kerja
keras...dan sebagian masyarakat Indonesia mencari jalan pintas. Tak
heran, jika kasus wakil rakyat yang melakukan jual beli gelar agar
kelihatan mentereng menyeruak di mana-mana. Dan dengan kepala kosong,
mereka mencoba mengkonsepsikan pemerintahan Indonesia. Apa yang terjadi?
Undang-undang sekedar lobi-lobi politik dimana semuanya UUD
(ujung-ujungnya duit).
Tidakkah kita semua miris lihat kenyataan ini? Lalu apa gunanya gelar kalau ternyata dia hanya kedok belaka?
http://pendidikanindonesia.blogspot.com/
Spagebok
Jumat, 13 Januari 2012
Guru, elemen yang terlupakan
Pendidikan Indonesia selalu gembar-gembor tentang kurikulum baru...yang katanya lebih oke lah, lebih tepat sasaran, lebih kebarat-baratan...atau apapun. Yang jelas, menteri pendidikan berusaha eksis dengan mengujicobakan formula pendidikan baru dengan mengubah kurikulum.
Di balik perubahan kurikulum yang terus-menerus, yang kadang kita gak ngeh apa maksudnya, ada elemen yang benar-benar terlupakan...Yaitu guru! Ya, guru di Indonesia hanya 60% yang layak mengajar...sisanya, masih perlu pembenahan. Kenapa hal itu terjadi? Tak lain tak bukan karena kurang pelatihan skill, kurangnya pembinaan terhadap kurikulum baru, dan kurangnya gaji. Masih banyak guru honorer yang kembang kempis ngurusin asap dapur rumahnya agar terus menyala.
Guru, digugu dan ditiru....Masihkah? atau hanya slogan klise yang sudah kuno. Murid saja sedikit yang menghargai gurunya...sedemikian juga pemerintah. banyak yang memandang rendah terhadap guru, sehingga orang pun tidak termotivasi menjadi guru. Padahal, tanpa sosok Oemar Bakri ini, tak bakal ada yang namanya Habibi.
Di balik perubahan kurikulum yang terus-menerus, yang kadang kita gak ngeh apa maksudnya, ada elemen yang benar-benar terlupakan...Yaitu guru! Ya, guru di Indonesia hanya 60% yang layak mengajar...sisanya, masih perlu pembenahan. Kenapa hal itu terjadi? Tak lain tak bukan karena kurang pelatihan skill, kurangnya pembinaan terhadap kurikulum baru, dan kurangnya gaji. Masih banyak guru honorer yang kembang kempis ngurusin asap dapur rumahnya agar terus menyala.
Guru, digugu dan ditiru....Masihkah? atau hanya slogan klise yang sudah kuno. Murid saja sedikit yang menghargai gurunya...sedemikian juga pemerintah. banyak yang memandang rendah terhadap guru, sehingga orang pun tidak termotivasi menjadi guru. Padahal, tanpa sosok Oemar Bakri ini, tak bakal ada yang namanya Habibi.
http://pendidikanindonesia.blogspot.com/
Langganan:
Postingan (Atom)